Trabekulektomi adalah salah satu prosedur operasi mata yang paling sering dilakukan untuk mengatasi glaukoma, terutama ketika obat tetes atau terapi laser tidak lagi efektif. Operasi ini bekerja dengan cara membuat jalur baru bagi cairan mata agar dapat keluar dan menurunkan tekanan intraokular yang berbahaya bagi saraf optik. Yuk, simak penjelasannya di bawah ini.
Daftar Isi
ToggleApa itu trabekulektomi pada mata?

Trabekulektomi adalah prosedur operasi mata yang umumnya dilakukan untuk menangani glaukoma, yaitu kondisi meningkatnya tekanan intraokular (tekanan dalam bola mata) yang dapat merusak saraf optik dan berujung pada kebutaan permanen bila tidak ditangani.
Pada mata yang sehat, cairan bernama aqueous humor mengalir melalui saluran alami menuju trabekula untuk menjaga tekanan mata tetap stabil. Namun, pada penderita glaukoma, saluran ini bisa tersumbat sehingga cairan menumpuk dan menyebabkan tekanan meningkat.
Trabekulektomi bertujuan untuk membuat jalur baru bagi cairan agar bisa keluar dari dalam mata. Dokter mata akan membuat saluran kecil pada sklera (bagian putih mata), lalu cairan akan mengalir ke ruang yang disebut bleb (tonjolan kecil di bawah kelopak mata bagian atas) sehingga tekanan bola mata dapat menurun.
Prosedur ini biasanya dianjurkan apabila tekanan mata tidak terkontrol dengan obat tetes atau obat oral, terjadi kerusakan saraf optik yang berkelanjutan meski sudah diterapi dan metode laser sebelumnya tidak memberikan hasil yang diharapkan. Dengan trabekulektomi, risiko kerusakan saraf optik dapat ditekan sehingga fungsi penglihatan pasien bisa lebih terjaga.
Baca Juga :
Berapa lama operasi trabekulektomi?
Operasi trabekulektomi tergolong prosedur dengan waktu pengerjaan relatif singkat. Biasanya operasi berlangsung sekitar 45–60 menit, tergantung kondisi pasien dan tingkat kesulitan anatomi mata.
Proses operasi dilakukan dengan anestesi lokal (mata dibius) sehingga pasien tetap sadar namun tidak merasakan sakit. Setelah operasi, pasien umumnya tidak perlu rawat inap lama dan bisa pulang di hari yang sama atau keesokan harinya. Namun, masa pemulihan penuh dapat memakan waktu 6–8 minggu, selama itu pasien harus rutin kontrol untuk memastikan tekanan mata stabil.
Apa yang tidak boleh dilakukan setelah trabekulektomi?

Pasca operasi, pasien harus menjalani perawatan khusus agar hasil operasi optimal. Ada beberapa pantangan dan hal yang harus diperhatikan, antara lain:
- Hindari mengucek atau menekan mata
Mata yang baru dioperasi masih sensitif. Mengucek dapat merusak luka operasi dan meningkatkan risiko infeksi. - Jangan melakukan aktivitas berat
Aktivitas seperti mengangkat beban, olahraga intens, atau membungkuk terlalu lama bisa meningkatkan tekanan mata. Disarankan untuk beristirahat dan hanya melakukan aktivitas ringan. - Tidak berenang atau berendam
Air kolam atau air kotor berisiko membawa bakteri yang bisa memicu infeksi pada luka operasi. Pasien disarankan menunggu sampai dokter menyatakan mata sudah pulih. - Hindari penggunaan riasan mata atau skincare di area sekitar mata
Produk kosmetik bisa masuk ke mata dan menyebabkan iritasi atau kontaminasi luka. - Jangan melewatkan obat tetes dan jadwal kontrol
Obat tetes antibiotik dan antiinflamasi diberikan untuk mencegah infeksi serta peradangan. Kontrol rutin sangat penting untuk mengevaluasi tekanan mata dan kondisi luka operasi.
Dengan mengikuti pantangan di atas, kemungkinan keberhasilan trabekulektomi bisa lebih tinggi dan komplikasi dapat diminimalkan.
Baca Juga :
Layanan Operasi Katarak Wilayah Mojokerto
Tanam Lensa, Solusi Bebas Kacamata
Apakah operasi trabekulektomi bisa gagal?
Seperti operasi katarak, trabekulektomi tidak selalu memberikan hasil yang sempurna. Operasi ini bisa mengalami kegagalan, terutama bila saluran baru yang dibuat menutup atau tersumbat kembali akibat jaringan parut.
Ada beberapa tanda kegagalan trabekulektomi antara lain tekanan bola mata tetap tinggi setelah operasi, Bleb (gelembung kecil di bawah kelopak mata) tidak terbentuk atau mengecil terlalu cepat, dan terjadi komplikasi seperti pendarahan, infeksi (endophthalmitis), atau kebocoran cairan.
Beberapa faktor penyebab kegagalan operasi ini adalah Proses penyembuhan yang terlalu cepat ketika jaringan parut menutup jalur baru sebelum berfungsi optimal. Riwayat operasi mata sebelumnya atau bekas operasi dapat memicu jaringan parut lebih banyak. Jenis glaukoma tertentu misalnya glaukoma neovaskular yang cenderung lebih sulit diatasi. Serta kurangnya kepatuhan pasien seperti tidak rutin kontrol atau tidak menggunakan obat sesuai anjuran.
Baca Juga :
Apabila operasi trabekulektomi tidak berhasil, ada beberapa pilihan lain yang bisa dilakukan seperti melakukan operasi trabekulektomi ulang untuk membuka kembali saluran yang tersumbat. Jika trabekulektomi gagal, dokter bisa memasang implan kecil (tube shunt) yang membantu mengalirkan cairan mata keluar. Terapi laser seperti cyclophotocoagulation bisa digunakan untuk mengurangi produksi cairan mata. Serta dokter mata akan memberikan obat tetes atau oral untuk mengendalikan tekanan mata sambil mempertimbangkan tindakan lanjutan.
Meskipun ada risiko kegagalan, trabekulektomi masih dianggap sebagai salah satu metode paling efektif untuk menurunkan tekanan bola mata pada penderita glaukoma yang tidak merespons obat atau laser. Yang terpenting, penderita glaukoma perlu melakukan konsultasi rutin ke dokter mata agar kondisi tekanan mata selalu terkontrol dan risiko kehilangan penglihatan dapat dicegah.
Simak informasi lainnya pada video di bawah ini ya



