mata merah menular
Diposting oleh :

Benarkah Mata Merah Menular dari Tatapan Penderitanya?

Mata merah merupakan salah satu penyakit atau gangguan mata yang cukup umum. Terlepas dari penyebab utamanya, ada anggapan di kalangan sebagian masyarakat bahwa mata merah menular dari tatapan. Betulkah mata merah menular dari aktivitas tatap-menata?

Meski sebagian mata merah bukanlah suatu gangguan yang serius, toh tak menutup kemungkinan munculnya mata merah mengindikasikan problem yang lebih serius yang membutuhkan perawatan medis. 

Dengan kata lain, mata merah dapat saja menjadi indikasi adanya sejumlah isu kesehatan tertentu, yang mungkin sebagian cuma problem kesehatan mata yang ringan, sementara sebagian yang lainnya mungkin saja memerlukan tindakan kedaruratan medis segera.  Untuk memastikannya tentu saja  perlu terlebih dahulu melakukan konsultasi dokter mata dan pemeriksaan mata.

Baca juga: Inilah Kebiasaan Penyebab Mata Silinder yang Bisa Kamu Hindari

Penyebab mata merah

Meski fenomenanya sama berupa mata merah, penyebabnya sendiri sangat beragam.

Menurut dr. Rina Wulandari Sp.M, dari Klinik Mata KMU, mata merah secara garis besar dapat dibagi menjadi infeksi dan noninfeksi. Beberapa penyebabnya disebutkan oleh dr. Rina sebagai berikut.

1] Konjungtivitis

Ini adalah peradangan konjungtiva, yakni bagian putih/bening mata kita. Saat terjadi konjungtivitis, selain mata kita memerah, juga berair ataupun ada sekret, atau kotoran mata. Demikian dijelaskan dr. Rina.

Menurut dr. Rina, meski mata merah, berair, dan mengeluarkan kotoran, seseorang yang menderita konjungtivitis, penglihatannya tidak akan berubah. “Jadi, akan sama seperti sebelum adanya penyakit,” katanya.

2] Keratitis

Sering dikenal pula sebagai ulkus kornea, ini adalah peradangan pada bagian tengah mata, yang biasanya kita lihat areanya berwarna hitam untuk orang-orang Asia.

mata merah (konjungtivitis) sering dialami anak-anak
Konjungtivitis sering dialami anak-anak dan membuat mata merah.

Baca juga: Apa dan Bagaimana Penyakit Katarak

“Apabila terjadi sesuatu di sana, ini disebut sebagai keratitis dan ada juga yang menyebutnya sebagai ulkus kornea apabila sudah sangat berat. Apabila sudah jadi ulkus kornea, mata yang harusnya hitam dan bening akan memiliki gambaran seperti keputihan. Tapi, ada juga yang tidak,” jelasnya.

Ditambahkan dr. Rina, yang khas dari keratitis ini yaitu terjadinya penurunan penglihatan karena kornea ini adalah salah satu jalur dari penglihatan sehingga keluhan yang utama adanya gangguan penglihatan. 

Baca juga: Mencegah Katarak di Usia Muda dengan 7 Cara

“Lalu kornea ini adalah bagian yang sangat sensitif, karena jaringan sarafnya sangat rapat, akan menimbulkan keluhan silau membuka mata dan juga berair,” katanya.

3] Perdarahan subkonjungtiva

Ini adalah salah satu penyebab mata merah yang tidak disebabkan oleh infeksi. “Pada dasarnya, ini adalah suatu perdarahan yang ada di bagian bawah dari konjungtiva, akibat dari pembuluh darah yang pecah. Maka, akan menimbulkan warna merah yang sedemikian rupa,” tutur dr. Rina.

Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa perdarahan subkonjungtiva akan berangsur-angsur membaik dengan sendirinya. “Namun, kita perlu perhatikan karena seringkali perdarahan subkonjungtiva ini diakibatkan oleh suatu penyakit sistemik dan yang paling sering apabila seseorang mengalami peningkatan tekanan darah yang cukup signifikan, ya,” sebutnya.

Baca juga: Lebih Jauh tentang Operasi Katarak

Penderita pendarahan subkonjungtiva, penglihatannya tidak terganggu. “Karena bagian yang mengalami gangguan ini tidak berada pada jalur penglihatan dan keluhannya untuk yang lain-lain tidak ada. Jadi, pada umumnya pasiennya tidak mengeluhkan adanya silau, berair ataupun nyeri,”  papar dr. Rina.

4] Glaukoma akut 

Pada glaukoma akut, memang ada kemerahan dan penglihatan juga kabur.  “Namun, kabur ini tidak diakibatkan oleh infeksi . Jadi, kabur ini diakibatkan oleh tekanan yang sedemikian tingginya sehingga bagian depan dari kornea mengalami pembengkakan sehingga penglihatannya akan turun,” jelas dr. Rina. 

Menurut dr. Rina, glaukoma akut merupakan suatu kegawatan mata karena tekanan bola mata yang naik dalam jangka waktu tertentu ini dapat merusak saraf optik.

“Ini dapat rusak secara berangsur-angsur dengan sifat yang permanen. Jadi, dapat menyebabkan kebutaan yang permanen yang tidak dapat dikembalikan,” tegas dr. Rina.

Ia menerangkan bahwa saat terjadi glaukoma akut, yang pertama dikeluhkan pasien adalah penglihatan yang sedikit terganggu, penglihatan yang turun, lalu adanya bayang-bayang saat kita melihat suatu pelangi dari benda yang bercahaya.

Baca juga: Daftar Artis yang Pernah Operasi LASIK

“Jadi, pada umumnya seperti kita melihat lampu. Lalu, di sekitar kita seperti melihat ada bayangan pelangi. Itu yang dikeluhkan oleh penderita glaukoma akut dan ini tekanan yang mendadak naik akan menyebabkan nyeri tumpul pada bola mata. Dan seringkali saking tingginya, ini akan mengaktivasi respons dari saraf kita sehingga pasien akan merasakan mual hingga muntah,” bebernya.

Mata merah menular dari tatapan?

Seperti dipaparkan di muka, berdasar pada penjelasan dr. Rina, mata merah terbagi dalam dua kategori, yaitu yang terkait dengan infeksi dan yang noninfeksi. Lantas, nemarkah mata merah menular dari tatapan?

Nah, untuk yang infeksi, mata merah dapat menular. Artinya, mata merah menular atay bisa menyebar dari satu orang ke orang lainnya. Ada juga keyakinan dari sebagian masyarakat bahwa mata merah menular dari tatapan. Tapi, benarkah demikian.

Mata merah yang terkait infeksi, baik karena virus atau bakteri memang dapat menular. Kontak langsung dengan penderita dapat menjadi jalan bagi seseorang untuk tertular.

benarkah mata merah menular
Mata merah menular. Foto: allaboutvision.

Baca juga: Bagaimana Cara Mendapatkan Operasi Katarak Gratis

Dalam soal penularan ini, secara  berkelakar dr. Rigan Ndaru Wicaksono, Sp.M, dokter mata dari RSUD Ir. Soekarno, Sukoharjo, mengatakan bahwa cinta saja dapat menular lewat tatapan mata, apalagi virus penyakit mata. 

Dikatakan oleh dr. Rigan, dalam kasus penyakit konjungtivitis yang disebabkan oleh virus, selain menular lewat percikan air mata, konjungtivitis menular lewat aerosol. Jadi, virusnya ada dalam udara  dan terbang ke mana-mana dan dapat menulari mereka yang terpapar.

“Tapi,yang paling sering kalau anak-anak habis kucek-kucek mata, lalu saling berkontak,” jelas dr. Rigan.

Tentu saja, berkontak di sini maksudnya adalah bersentuhan secara langsung dengan pasien. Bisa juga via barang-barang milik pasien maupun cairan sekresi dari pasien. Sehingga virus penyakit menempel di sebagian tubuh atau pakaian kita dan akhirnya menulari diri kita. Jadi, pada konteks ini, mata merah menular.

Pengobatan mata merah

Karena penyebab mata merah bermacam-macam. Maka, pengobatannya pun tidak sama. “Jadi, tidak semua mata merah itu penyebabnya sama, lalu obatnya sama,” kata dr. Rina.

Diterangkan dr. Rina, ada mata merah yang disebabkan oleh infeksi, sedangkan infeksi sendiri bisa dari virus ataupun bakteri atau bahkan jamur atau organisme yang lain. Bisa juga penyebabnya non infeksi.

“Karena sebabnya ini berbeda-beda, maka dimohon tidak melakukan pengobatan sendiri,” dr. Rina mengingatkan.

Baca juga: Floaters Mata Sering Muncul, Berbahayakah?

Menurutnya, tidak semua obat tetes mata adalah sama. “Apabila kita ingin memiliki suatu obat tetes untuk dapat meredakan iritasi sesaat, yang paling aman adalah menggunakan air mata buatan. Tidak bisa sembarangan untuk menggunakan obat tetes mata antibiotik atau tetes mata yang mengandung tetra hidrozolin, seperti yang umumnya ada di iklan-iklan di tv itu,” papar dr. Rina.

Ia mewanti-wanti agar kita jangan sembarangan atau sengaja mengobati mata dengan pemberian steroid. “Karena steroid walau dapat meredakan mata merah dengan singkat, itu dapat meningkatkan tekanan bola mata yang tidak terasa yang berakibat menjadi kebutaan yang permanen,” ucapnya.

“Mata merah apa pun, terutama yang disertai gangguan penglihatan perlu dilakukan pemeriksaan oleh dokter mata,” pungkas dr. Rina.

Baca juga: Wow! Mata Minus Bisa Bebas Kacamata Berkat LASIK

Simak dan ikuti update terkini seputar informasi dan edukasi kesehatan mata di kanal medsos doktermata.co.id.

Sumber:  dr. Rina Wulandari Sp.M & dr. Rigan Ndaru Wicaksono, Sp.M

 

 

Bagikan:

Berikan Komentar